Kendalikan Kadar Gula Darah dengan Stevia

Meski asupan gula dikurangi, Anda masih bisa menikmati makanan atau minuman manis. Caranya, tukar gula dengan pemanis alami seperti stevia yang hampir tidak mengandung kalori.

Stevia berasal dari ekstrak daun tanaman Stevia rebaudiana. Tanaman ini mengandung bahan pemanis steviol glikosida, merupakan hasil olahan dari daunnya, yang sudah digunakan sebagai pemanis selama bertahun-tahun di Amerika Selatan dan Asia. Rasanya, 200 sampai 300 kali lebih manis dari pada gula biasa. Bisa dibilang, sejumput kecil bubuk stevia setara dengan sekitar satu sendok teh gula pasir.

Kendalikan Kadar Gula Darah dengan Stevia - Alodokter

Meski manisnya berkali-kali lipat, stevia hampir tidak mengandung kalori. Saat dikonsumsi, stevia akan dipecah menjadi steviol dan diserap oleh tubuh. Namun tubuh tidak akan menyimpan steviol, melainkan membuangnya dengan cepat dalam bentuk air seni dan kotoran.

Stevia dan Diabetes

Jika Anda menderita diabetes, jangan khawatir. Stevia diduga dapat membantu menjaga kadar gula darah tetap terkendali. Menurut penelitian terhadap 12 pasien diabetes dan 19 orang sehat, ditemukan bahwa stevia diduga mampu menurunkan kadar glukosa dan insulin secara signifikan. Dan meski kandungan kalorinya rendah, stevia tetap bisa membuat kita merasa kenyang serta puas setelah makan.

Beberapa penelitian lain pun menunjukkan, mengonsumsi 1000 mg ekstrak daun stevia yang mengandung kadar steviosid sebanyak 91{97eedb18bcef765cfd5ae1f5706881693b751538d89d413bc1acefc35aca0452} setiap hari diduga dapat mengurangi kadar gula darah setelah makan sebesar 18{97eedb18bcef765cfd5ae1f5706881693b751538d89d413bc1acefc35aca0452} pada penderita diabetes tipe 2.

Meski penelitian akan kegunaan stevia dalam mengontrol gula darah masih membutuhkan bukti dan studi lebih lanjut, namun stevia juga diduga memiliki sifat antioksidan dan antidiabetes, sehingga mampu melawan radikal bebas, meningkatkan toleransi glukosa secara signifikan, meningkatkan produksi dan kerja insulin, menstabilkan kadar gula darah, dan menurunkan risiko komplikasi pada penderita diabetes tipe 2.

Penggunaan Stevia

Stevia bisa menjadi pengganti gula pasir dan dicampurkan ke dalam kopi, teh, air limun, jus, smoothie, atau yogurt tanpa rasa. Selain itu, stevia juga bisa digunakan untuk membuat kue atau kukis, hanya saja kemungkinan akan meninggalkan sensasi rasa getir setelah dikonsumsi.

Namun meski alami, jangan sembarangan apalagi berlebihan dalam mengonsumsi stevia. Disarankan untuk mengonsumsi stevia sebanyak 4 mg/kg berat badan. Artinya, kalau berat badan Anda 50 kg, jangan sampai mengonsumsi stevia lebih dari 200 mg per hari. Perhatikan pula asupan gula dari makanan atau minuman lain yang tidak mengandung stevia.

Gula memang sangat dibutuhkan oleh tubuh sebagai sumber energi utama. Tapi, terlalu banyak gula justru tidak baik bagi kesehatan dan dapat menimbulkan berbagai penyakit, salah satunya diabetes. Oleh karena itu, dianjurkan untuk mengurangi dan membatasi konsumsi gula sehari-hari untuk menjaga keseimbangan kadar glukosa dalam darah. Hal tersebut berlaku untuk siapa saja, terutama bagi penderita penyakit diabetes.

Dalam mengendalikan kadar gula darah, perhatikan dari berbagai aspek yang memengaruhinya, disarankan untuk selalu menjaga pola hidup yang sehat dengan menjaga asupan bernutrisi secara seimbang, mengendalikan konsumsi gula harian, cukupi kebutuhan istirahat dan cairan tubuh, serta berolahragalah secara rutin dan teratur. Ingat, penggunaan stevia mungkin bisa membantu sebagai pengganti gula biasa, namun bukan berarti dapat menggantikan obat yang diberikan oleh dokter. Jadi, jangan ragu untuk berkonsultasi lebih lanjut dengan dokter mengenai penggunaan stevia, serta nutrisi dan pengobatan Anda.

Berapa Kadar Gula Darah Normal pada Tubuh?

Memiliki kadar gula darah normal pada tubuh sangat penting karena bisa menunjang kinerja tubuh dan membuat Anda tetap sehat. Namun apakah Anda tahu berapa kadar gula darah normal yang harus Anda miliki?

Sebenarnya kadar gula darah normal tidak berpatokan pada satu angka baku. Kadar ini bisa berubah seperti saat sebelum dan sesudah Anda makan atau juga saat waktunya tidur.

Berapa Kadar Gula Darah Normal pada Tubuh? - Alodokter

Kisaran Kadar Gula Darah yang Normal

Seusai makan, sistem pencernaan Anda akan memecah karbohidrat menjadi gula atau glukosa yang bisa diserap oleh aliran darah. Zat tersebut sangat penting untuk sumber energi sel-sel tubuh Anda. Darah mengalirkan zat gula ini menuju sel-sel tubuh guna menjadikannya energi.

Namun, zat gula ini harus melewati sebuah ‘pintu’ untuk memasuki sel-sel tersebut. Hormon yang berperan dalam membuka ‘pintu’ itu adalah insulin. Insulin dihasilkan oleh pankreas. Setelah memasuki sel, zat gula ini akan dibakar menjadi energi yang bisa Anda pakai. Gula yang lebih akan disimpan di hati untuk dipakai di kemudian hari.

Berikut kisaran kadar gula darah normal pada tubuh:

  • Sebelum makan: sekitar 70-130 mg/dL
  • Dua jam setelah makan: kurang dari 140 mg/dL
  • Setelah tidak makan (puasa) selama setidaknya delapan jam: kurang dari 100 mg/dL
  • Menjelang tidur: 100 – 140 mg/dL

Mengenali Tanda Kekurangan dan Kelebihan Gula Darah

Menjaga kadar gula darah agar dalam angka normal sangat penting. Gula darah terlalu rendah (hipoglikemia) atau tinggi (hiperglikemia) bisa berdampak negatif pada tubuh Anda. Jika gula darah Anda di bawah 70 mg/dL maka Anda mengalami hipoglikemia. Anda dikatakan mengalami hiperglikemia jika kadar gula darah Anda lebih dari 200 mg/dL.

Efek terlalu rendahnya kadar gula darah antara lain:

  • Tubuh lemas
  • Kulit pucat
  • Berkeringat
  • Kelelahan
  • Gelisah
  • Sulit berkonsentrasi
  • Mudah marah
  • Kesemutan di area mulut
  • Tidak mampu berdiri atau berjalan
  • Kejang
  • Jantung berdebar

Efek terlalu tingginya kadar gula darah antara lain:

  • Bobot tubuh berkurang
  • Nafsu makan meningkat
  • Tubuh lelah
  • Haus
  • Sering buang air kecil
  • Mudah gelisah
  • Penglihatan buram
  • Kulit kering, memerah dan terasa panas
  • Sering infeksi gigi

Cara Mempertahankan Kadar Gula Darah Normal

Untuk menghindari efek gula darah terlalu rendah atau tinggi, mari jaga kadar gula darah Anda agar tetap dalam batas normal. Berikut cara-cara yang bisa Anda lakukan:

  • Olahraga rutin
    Dengan rutin olahraga, Anda bisa menstabilkan gula darah. Lakukan olahraga setidaknya 2,5 jam per minggu secara teratur. Anda bisa melatih kekuatan otot-otot tubuh karena peranannya dalam menggunakan dan menyimpan gula sangat besar. Hal tersebut bisa membuat kadar gula darah tetap normal. Namun ingat, jangan berlebihan melakukan aktivitas fisik karena hal tersebut bisa memicu hipoglikemia.
  • Perhatikan asupan makanan
    Sebaiknya batasi konsumsi karbohidrat. Sumber karbohidrat yang bisa Anda pilih yaitu ubi, pasta dari biji-bijian utuh, dan nasi merah. Makanan lain yang bagus untuk Anda konsumsi yaitu kacang-kacangan seperti almond, ikan salmon, daging dada ayam tanpa kulit,  brokoli, bayam, dan kayu manis.
  • Makan tepat waktu
    Jangan melewatkan waktu makan Anda, terutama sarapan. Jika hal ini terjadi, rasa lapar akan meningkat di jam makan berikutnya. Hasilnya Anda akan makan secara berlebihan, kemudian naiklah gula darah Anda. Makan tiga kali sehari ditambah dua camilan bernutrisi di sela-sela jam makan bisa membantu gula darah tetap normal.
  • Hindari stres
    Sebaiknya segera atasi stres yang Anda alami, karena kondisi ini bisa membuat kadar gula darah Anda meningkat.
  • Selalu sedia camilan manis
    Selalu bawa camilan manis seperti permen untuk mencegah kadar gula darah menurun drastis. Namun jangan mengonsumsinya secara berlebihan.

Untuk mengetahui kadar gula darah normal, tes gula darah bisa dilakukan di rumah sakit, atau jika ingin praktis Anda bisa membeli alat tes gula darah yang bisa dipakai di rumah. Namun, untuk memantau kadar gula darah selama 2 sampai 3 bulan terakhir, diperlukan tes haemoglobin A1c (HbA1c) di laboratorium. Sebaiknya konsultasi ke dokter untuk mengetahui jenis tes darah yang dibutuhkan.

Terakhir diperbarui: 9 Maret 2018
Ditinjau oleh: dr. Allert Noya

Tidak Ada yang Namanya Diabetes Kering atau Diabetes Basah

Penderita diabetes di Indonesia kerap mengkategorikan penyakit tersebut ke dalam dua jenis, yaitu diabetes kering dan diabetes basah. Di dalam dunia medis sendiri, sebenarnya tidak ada istilah diabetes kering ataupun basah.

Secara umum terdapat tiga jenis diabetes, yaitu diabetes tipe 1, diabetes tipe 2, dan diabetes gestasional selama masa kehamilan. Meskipun jenis diabetesnya berbeda, akan tetapi kondisi tersebut sama-sama menandakan bahwa seseorang memiliki kadar gula yang tinggi di dalam darah.

Tidak Ada yang Namanya Diabetes Kering atau Diabetes Basah - Alodokter

Penyebab Luka pada Diabetes Sulit Sembuh

Penyakit diabetes kerap membuat penderitanya rentan mengalami luka yang tak kunjung sembuh, terutama di bagian kaki. Orang Indonesia sering menyamakan kondisi ini sebagai diabetes basah. Luka sekecil apa pun pada penderita diabetes harus segera ditangani dengan benar. Pasalnya, luka diabetes yang tidak segera teratasi dapat berubah menjadi ulkus diabetikum, yang sering terjadi di kaki penderita diabetes. Dalam beberapa kasus, ulkus yang parah menyebabkan kaki penderita diabetes harus diamputasi.

Terdapat beberapa faktor yang bisa menyebabkan luka tersebut sulit untuk disembuhkan, yaitu:

  • Buruknya sirkulasi darah
    Tingginya kadar gula dalam darah bisa mengakibatan berbagai komplikasi. Salah satunya adalah penyempitan pembuluh darah arteri atau penyakit arteri perifer. Kondisi ini membuat aliran darah dari jantung menuju ke seluruh bagian tubuh menjadi terhambat, sehingga pasokan oksigen dan nutrisi menjadi sulit tersalurkan ke seluruh tubuh. Padahal, bagian tubuh yang luka sangat membutuhkan oksigen dan nutrisi yang terkandung dalam darah untuk mempercepat proses penyembuhan.
  • Menurunnya sistem kekebalan tubuh
    Meningkatnya kadar gula dalam darah menyebabkan sel-sel yang bertugas untuk menjaga kekebalan tubuh melemah. Oleh karenanya, luka sedikit saja bisa mengakibatkan infeksi parah. Bila sudah begini, sel-sel kekebalan tubuh tidak bisa menyembuhkan atau mengeringkan luka dengan cepat pada penderita diabetes.
  • Kerusakan saraf
    Salah satu faktor sulitnya penyembuhan atau pengeringan luka pada penderita diabetes yaitu neuropati (kerusakan saraf). Neuropati sendiri merupakan kondisi di mana tubuh tidak bisa merasakan sesuatu atau mati rasa. Hal ini dikarenakan saraf-saraf di dalam tubuh sudah rusak akibat tingginya kadar gula darah yang menyebabkan jaringan saraf tidak mendapatkan aliran darah yang cukup. Biasanya kondisi ini lebih banyak terjadi pada bagian kaki dan tangan. Karena tidak merasakan sakit apa pun di daerah yang luka, Anda mungkin tidak sadar bila lukanya mengalami gesekan, bertambah parah, atau terbentuk luka yang baru.

Penanganan Luka Penderita Diabetes

Tidak seperti orang normal, penderita diabetes perlu mewaspadai jika anggota tubuhnya terluka, terutama di bagian kaki, karena luka sekecil apa pun jika tidak ditangani dengan baik dapat membahayakan kondisi tubuh secara keseluruhan.

Berikut adalah pertolongan pertama penanganan luka pada penderita diabetes:

  • Bersihkan area luka dari kotoran dengan menggunakan sabun dan air mengalir, secara rutin. Setelah luka bersih, oleskan salep antibiotik pada bagian kaki yang luka. Kemudian tutup luka dengan perban yang steril.
  • Hindari menggunakan obat antiseptik, cairan pembersih luka yang mengandung alkohol, ataupun produk yang berbahan yodium. Produk-produk tersebut justru menyebabkan iritasi pada kulit Anda.
  • Hindari menggunakan sepatu sempit yang membuat kaki Anda tertekan. Tekanan yang berlebihan pada area luka memungkinkan luka bertambah parah.
  • Jaga aliran darah agar tetap lancar, caranya dengan menaikkan kaki dan pertahankan posisi kaki yang lurus agar aliran darah tidak semakin terganggu.
  • Perhatikan selalu tanda-tanda infeksi yang muncul pada luka. Gejala munculnya infeksi bisa berupa rasa sakit, kemerahan, muncul nanah, lokasi luka terasa panas dan bengkak, serta demam.

Perlu diingat, jika luka di bagian kaki tidak sembuh setelah mendapatkan perawatan mandiri, disarankan untuk segera memeriksakan diri ke dokter, supaya luka tidak semakin memburuk dan menjadi sulit untuk di tangani.

Mencegah Luka Pada Penderita Diabetes

Mengingat risiko munculnya luka pada penderita diabetes terlalu tinggi, maka ada baiknya melakukan tindakan pencegahan sebelum luka terjadi. Berikut adalah hal yang dapat dilakukan sebagai pencegahan:

  • Rutinlah membersihkan kaki dengan menggunakan air hangat. Setelah itu, keringkan seluruh anggota badan, terutama di antara jari-jari kaki. Gunakan losion untuk menjaga kulit tetap lembap.
  • Gosok perlahan permukaan kaki dengan batu apung atau alat khusus untuk menghaluskan permukaan kaki. Hal ini juga dapat dilakukan sebagai pencegahan terhadap munculnya kapalan dan mata ikan pada kaki.
  • Gunakan selalu alas kaki ketika sedang berada di luar rumah ataupun di dalam rumah. Ini bertujuan untuk menghindari cedera pada bagian kaki. Hindari penggunaan kaos kaki yang terlalu ketat karena dapat mengurangi aliran darah.
  • Hindari mengenakan sepatu yang tidak nyaman, seperti sepatu berhak tinggi. Sebagai gantinya, pililah sepatu yang memiliki bantalan tumit dan berukuran lebih besar dari kaki Anda.
  • Potong kuku Anda dengan hati-hati. Ini dimaksudkan untuk menghindari cedera kaki akibat terkena gunting kuku. Mintalah bantuan kepada orang lain, bila Anda tidak mampu memotong kuku sendiri.
  • Periksa kondisi kaki setiap hari, pastikan kondisi kaki normal dan tidak terdapat tanda-tanda luka dan infeksi.

Selain melakukan pencegahan luka seperti yang sudah dijelaskan di atas. Anda pun perlu mengelola diabetes dengan mengonsumsi makanan sehat, tidak merokok, dan berolahraga secara teratur.

Ingat juga, istilah diabetes kering ataupun diabetes basah sebenarnya tidak ada dalam istilah medis. Apa pun jenis diabetesnya, Anda harus tetap memeriksakan diri ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan yang lengkap dan pengobatan yang tepat. Jika terdapat luka diabetes dan sulit merawatnya di rumah, Anda dapat mendatangi rumah sakit atau fasilitas kesehatan terdekat untuk melakukan perawatan luka.

Terakhir diperbarui: 29 September 2018
Ditinjau oleh: dr. Kevin Adrian

Pengobatan Diabetes Insipidus

Pengobatan diabetes insipidus bergantung kepada jenis yang diderita. Pengobatan yang dilakukan bertujuan untuk mengurangi jumlah urine yang dihasilkan oleh tubuh dan mengendalikan gejala yang muncul.

Pengobatan Diabetes Insipidus Kranial

Jika Anda menghasilkan urine sebanyak 3-4 liter dalam satu hari (24 jam), kondisi ini dianggap sebagai diabetes insipidus kranial ringan. Kondisi ini tidak memerlukan pengobatan khusus. Anda bisa meredakan gejala yang muncul dengan meningkatkan konsumsi air putih Anda untuk menghindari dehidrasi. Dokter akan menyarankan setidaknya mengonsumsi 2,5 liter dalam satu hari.

Jika kondisi yang Anda alami cukup parah dan disebabkan oleh rendahnya produksi hormon antidiuretik, maka mengonsumsi banyak air belum cukup untuk meredakan gejala yang muncul. Berikut ini beberapa obat yang mungkin digunakan untuk mengatasi kondisi yang dialami.

  • Desmopressin. Obat ini berfungsi seperti hormon antidiuretik. Obat ini akan menghentikan produksi urine. Desmopressin adalah hormon antidiuretik buatan dan memiliki fungsi lebih kuat dari hormon aslinya. Obat ini bisa berbentuk obat semprot hidung atau tablet. Efek samping yang mungkin terjadi adalah sakit kepala, sakit perut, mual, mimisan, atau hidung berair atau tersumbat. Untuk tahu lebih banyak tentang obat ini, tanyakan kepada dokter atau apoteker.
  • Thiazide diuretik. Obat ini berfungsi membuat urine menjadi lebih pekat dengan cara mengurangi kadar airnya. Efek samping yang mungkin terjadi akibat obat ini adalah pusing ketika berdiri, gangguan pencernaan, kulit menjadi lebih sensitif, dan bagi pria, mengalami disfungsi ereksi.
  • Obat Anti-inflamasi Non-steroid. Jika kelompok obat ini dikombinasikan dengan thiazide diuretik, obat ini bisa menurunkan jumlah urine yang dikeluarkan oleh tubuh.

Pengobatan Diabetes Insipidus Nefrogenik

Jika kondisi yang Anda alami disebabkan oleh obat seperti lithium dan tetracycline, dokter spesialis penyakit hormon akan meminta Anda berhenti mengonsumsinya dan mencari obat penggantinya. Jika tidak disarankan oleh dokter, jangan berhenti mengonsumsi obat yang telah diresepkan dokter.

Jika organ ginjal mengalami gangguan dan tidak bisa merespons hormon antidiuretik sehingga menyebabkan diabetes insipidus nefrogenik, maka Anda akan disarankan untuk meminum banyak air putih agar terhindar dari dehidrasi. Obat desmopressin tidak bisa mengatasi kondisi ini.

Mengurangi asupan garam juga akan membantu ginjal dalam menyimpan air dan mengurangi volume urine. Pastikan untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum mengubah pola makan Anda. Untuk mengurangi jumlah produksi urine dari organ ginjal, kombinasi thiazide diuretik dan obat antiinflamasi non-steroid akan diresepkan pada diabetes insipidus nefrogenik yang parah.

Ditinjau oleh: dr. Marianti

Pengobatan Diabetes Tipe 2

Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan untuk menangani diabetes tipe 2. Dokter akan menentukan metode yang tepat dan sesuai dengan kondisi pasien.

Diet dan berolahraga

Metode ini perlu dilakukan untuk menangani diabetes, termasuk tipe 2. Selain menurunkan kadar gula dalam darah, menerapkan pola hidup sehat dengan rutin berolahraga dan mengonsumsi makanan bergizi seimbang juga dapat mengurangi risiko terjadinya komplikasi penyakit.

Dokter akan menganjurkan pasien untuk mengonsumsi makanan yang kaya akan serat dan rendah lemak. Konsultasikan lebih lanjut dengan dokter mengenai jenis makanan yang baik untuk dikonsumsi, dan tipe olahraga beserta frekuensinya yang dianjurkan. Ketentuan pola makan dan olahraga pada tiap orang dapat berbeda, sesuai kondisi tubuh.

Pemberian Obat

Dokter juga dapat meresepkan obat kepada pasien diabetes tipe 2 ketika penanganan dengan menerapkan pola hidup sehat tidak cukup efektif. Beberapa obat yang dapat digunakan untuk menangani diabetes tipe 2 meliputi:

  • Metformin, untuk mengurangi produksi gula pada hati.
  • Meglitinide dan sulfonylurea, untuk merangsang kerja pankreas agar memproduksi insulin lebih banyak. Contoh obat meglitinide adalah nateglinide, dan contoh obat sulfonylureaadalah glibenclamide.
  • DPP-4, untuk meningkatkan produksi insulin dan mengurangi produksi gula oleh hati. Contoh obat ini adalah sitagliptin.
  • GLP-1 receptor agonist. Obat dapat memperlambat proses pencernaan makanan, terutama yang mengandung gula, sekaligus menurunkan kadar gula dalam darah. Contohnya exenatide.
  • SGLT2 inhibitor. Obat ini bekerja dengan cara memengaruhi ginjal membuang lebih banyak gula. Contohnya dapagliflozin.

Sebelum menggunakan obat, konsultasikan ke dokter terlebih dahulu, agar dapat ditentukan jenis dan dosis obat yang sesuai. Jenis dan dosis yang tidak sesuai berpotensi besar menimbulkan efek samping.

Selain obat-obatan, insulin tambahan dapat diberikan dokter dengan cara disuntik. Terapi ini dapat digunakan ketika pengobatan lain tidak efektif. Insulin tersedia dalam aneka jenis, dan masing-masingnya bekerja dengan cara yang berbeda. Diskusikan dengan dokter mengenai jenis-jenis insulin suntik.

Operasi Bariatrik

Berat badan berlebih menjadi salah satu faktor yang diduga menyebabkan diabetes tipe 2. Operasi bariatrik berfungsi untuk menurunkan berat badan dengan mengubah bentuk saluran pencernaan agar banyak makanan yang dikonsumsi dapat dibatasi dan nutrisi yang terserap dapat berkurang.

Terakhir diperbarui: 9 November 2018
Ditinjau oleh: dr. Tjin Willy

Penyebab Diabetes Tipe 2

Pankreas memproduksi hormon insulin yang bertugas untuk membantu sel dalam tubuh mengubah zat gula (glukosa), yang didapat dari makanan atau dihasilkan hati, menjadi energi. Diabetes tipe 2 terjadi ketika sel tubuh tidak dapat menggunakan insulin sebagaimana mestinya.

Penyebab gangguan pada sel tubuh tersebut belum diketahui secara pasti. Namun, diduga gen menjadi salah satu faktor pemicunya. Risiko seseorang mengalami penyakit ini juga meningkat ketika berusia 45 tahun atau lebih, dan memiliki anggota keluarga yang juga penderita diabetes.

Selain gen, diabetes tipe 2 juga diduga dapat dipicu oleh kondisi dan pola hidup pasien. Beberapa kondisi yang diduga berisiko menimbulkan diabetes tipe 2 adalah:

  • Prediabetes.
  • Gangguan jantung dan pembuluh darah.
  • Hipertensi.
  • Tingkat kolesterol baik (HDL) yang
  • Trigliserida tinggi.
  • Obesitas.
  • Diabetes gestational, yaitu diabetes yang terjadi selama kehamilan.
  • PCOS.
  • Agantosis nigrikans.

Selain kondisi-kondisi di atas, gaya hidup juga memengaruhi risiko terjadinya diabetes tipe 2. Beberapa gaya hidup yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami penyakit ini adalah:

  • Kurang berolahraga.
  • Merokok.
  • Sering stress.
  • Kurang istirahat.
Terakhir diperbarui: 9 November 2018
Ditinjau oleh: dr. Tjin Willy

Pengertian Diabetes Tipe 1

Diabetes tipe 1 adalah kondisi yang ditandai dengan tingginya kadar gula atau glukosa dalam darah. Berbeda dari diabetes tipe 2 yang terjadi akibat resistensi insulin atau karena sel tubuh menjadi kebal atau tidak responsif terhadap insulin, diabetes tipe 1 terjadi ketika tubuh kurang atau sama sekali tidak memproduksi insulin. Akibatnya, penderita diabetes tipe 1 memerlukan tambahan insulin dari luar.

alodokter-diabetes-tipe1

Normalnya, kadar gula dalam darah dikontrol oleh hormon insulin yang dihasilkan oleh pankreas. Ketika makanan yang masuk ke tubuh dicerna dan masuk ke aliran darah, insulin akan mengikat glukosa dalam darah dan membawanya masuk ke sel untuk diubah menjadi energi. Namun pada penderita diabetes, tubuh tidak dapat mengolah glukosa menjadi energi. Kondisi ini terjadi karena tidak ada insulin untuk membawa glukosa masuk ke dalam sel. Akibatnya, glukosa akan menumpuk dalam darah.

Diabetes tipe 1 lebih jarang terjadi dibanding diabetes tipe 2. Diketahui hanya ada 10 persen penderita diabetes tipe 1 dari seluruh kasus diabetes di seluruh dunia.

Terakhir diperbarui: 11 Desember 2018
Ditinjau oleh: dr. Tjin Willy

Arti Tinggi dan Rendahnya Kadar Gula Darah

Kadar gula darah adalah banyaknya zat gula atau glukosa di dalam darah. Meskipun senantiasa mengalami perubahan, kadar gula darah perlu dijaga dalam batas normal agar tidak terjadi gangguan di dalam tubuh.

Kadar gula darah dipengaruhi oleh asupan nutrisi dari makanan atau minuman, khususnya karbohidrat, serta jumlah insulin dan kepekaan sel-sel tubuh terhadap insulin. Kadar gula darah yang terlalu tinggi atau terlalu rendah akan memberikan dampak buruk bagi kesehatan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

 

Arti Tinggi dan Rendahnya Kadar Gula Darah - Alodokter

Apa yang Terjadi jika Gula Darah Terlalu Tinggi?

Kadar gula darah dikatakan terlalu tinggi jika melebihi 200 mg/dL. Istilah medis untuk kadar gula darah terlalu tinggi adalah hiperglikemia.

Hiperglikemia dapat terjadi ketika tubuh tidak memiliki cukup insulin, yaitu hormon yang dilepas oleh pankreas. Insulin berfungsi menyebarkan gula dari darah ke seluruh sel-sel tubuh agar bisa diproses menjadi energi.

Gula darah tinggi juga dapat terjadi bila sel-sel tubuh tidak sensitif terhadap insulin, sehingga gula dari darah tidak dapat masuk ke dalam sel untuk diproses.

Gula darah tinggi sering dialami oleh penderita diabetes yang tidak menjalani gaya hidup sehat, misalnya terlalu banyak makan, kurang berolahraga, atau lupa mengonsumsi obat diabetes atau insulin. Selain itu, gula darah tinggi pada penderita diabetes juga dapat dipicu oleh stres, infeksi, atau mengonsumsi obat-obatan tertentu.

Orang normal yang tidak menderita diabetes juga bisa terkena hiperglikemia, terutama jika sedang mengalami sakit berat. Tanda-tanda Anda memiliki kadar gula darah terlalu tinggi adalah badan terasa lelah, nafsu makan sangat tinggi, bobot tubuh berkurang, sering merasa haus, dan sering buang air kecil.

Jika kadar gula darah mencapai 350 mg/dL atau lebih, gejala yang dapat muncul adalah sangat haus, penglihatan buram, pusing, gelisah, dan penurunan kesadaran. Di samping itu, kulit akan terlihat memerah, kering, dan terasa panas.

Apabila tidak segera ditangani, kadar gula darah yang terlalu tinggi bisa menimbulkan ketoasidosis diabetik atau sindrom hiperglikemi hiperosmolar, yang dapat berakibat fatal.

Selain itu, kadar gula darah tinggi dalam jangka waktu lama tanpa pengobatan dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi pada gigi dan gusi, masalah kulit, osteoporosis, gagal ginjal, kerusakan saraf, kebutaan, serta penyakit kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah).

Apa yang Terjadi jika Gula Darah Terlalu Rendah?

Gula darah terlalu rendah atau hipoglikemia terjadi ketika kadar gula darah di bawah 70 mg/dL. Kondisi ini juga umum terjadi pada penderita diabetes, yaitu akibat efek samping obat antidiabetes yang dikonsumsinya. Obat antidiabetes, khususnya insulin, bisa menurunkan kadar gula darah secara berlebihan.

Penderita diabetes tipe 1 tidak memiliki hormon insulin dalam jumlah yang cukup. Oleh karena itu, diperlukan tambahan insulin dari luar yang biasanya berupa suntikan. Namun jika dosisnya terlalu tinggi, insulin bisa membuat gula darah turun drastis.

Pada penderita diabetes, hipoglikemia dapat terjadi jika penggunaan insulin atau obat antidiabetes tidak diiringi oleh asupan makanan yang cukup. Olahraga yang berlebihan juga dapat memicu kondisi ini.

Bukan hanya penderita diabetes, orang yang tidak menderita diabetes pun bisa mengalami hipoglikemia atau gula darah rendah. Beberapa penyebabnya adalah:

  • Terlalu banyak minum minuman beralkohol.
  • Menderita penyakit tertentu, seperti hepatitis, anoreksia nervosa, atau tumor pada pankreas.
  • Kekurangan hormon tertentu.
  • Mengonsumsi obat-obatan tertentu, misalnya quinine.
  • Tanpa sengaja mengonsumsi obat antidiabetes milik orang lain.

Jika kadar gula darah rendah, tubuh akan terasa lemas dan tidak bertenaga. Gejala lain yang bisa Anda alami adalah lapar, keluar keringat dingin, kulit pucat, jantung berdebar, kesemutan di area mulut, gelisah, dan mudah marah.

Sedangkan gejala yang akan Anda alami ketika kadar gula darah terlalu rendah (di bawah 40 mg/dL), antara lain:

  • Bicara melantur
  • Sulit konsentrasi
  • Tidak mampu berdiri atau berjalan
  • Otot berkedut
  • Kejang

Jika didiamkan, kondisi ini dapat menyebabkan stroke, koma, bahkan kematian.

Mari Cek Gula Darah Anda

Tes gula darah umumnya dianjurkan bagi orang yang memiliki gejala diabetes, seperti sering haus, sering buang air kecil, dan sering merasa lapar. Selain itu, tes ini juga dapat dianjurkan bagi orang-orang yang memiliki riwayat diabetes dalam keluarga.

Cara untuk mengetahui kadar gula darah adalah dengan melakukan tes darah. Tes ini berguna untuk memonitor kadar gula darah dalam tubuh Anda, agar tidak keluar dari batas normal.

Tes gula darah bisa dilakukan sendiri di rumah menggunakan alat glukometer. Sampel darah untuk pemeriksaan ini diambil dengan menusuk ujung jari menggunakan jarum khusus.

Anda juga bisa melakukan tes gula darah di rumah sakit. Ada beberapa jenis tes gula darah yang bisa dilakukan:

Tes gula darah puasa

Anda diharuskan puasa delapan jam sebelum pengambilan sampel darah. Tes ini sering dipakai untuk mendiagnosis kondisi pradiabetes dan penyakit diabetes.

Tes toleransi glukosa oral (TTGO)

Dalam tes ini Anda akan diberikan glukosa dalam jumlah tertentu, dan dua jam kemudian, kadar gula dalam darah Anda akan diperiksa.

Tes hemoglobin A1c (HbA1c) atau glikohemoglobin

Tes ini dilakukan untuk mengetahui kadar gula darah pada sel darah merah. Hasil tes HbA1c dapat memberi informasi mengenai kadar gula Anda selama 2-3 bulan terakhir.

Tes ini memudahkan dokter untuk menyesuaikan dosis dan jenis obat-obatan antidiabetes, jika diperlukan. Anda tidak perlu menjalani persiapan khusus untuk melakukan tes ini.

Tes gula darah sewaktu

Tes ini bisa dilakukan kapan saja dan tidak memerlukan persiapan khusus. Namun, pemeriksaan gula darah sewaktu tidak dapat digunakan untuk mendiagnosa diabetes.

Pemeriksaan ini hanya dipakai untuk memantau naik-turunnya gula darah pada penderita diabetes, atau untuk melihat kadar gula darah pada pasien dengan kondisi tertentu, misalnya lemas atau pingsan.

Jika hasil tes gula darah sewaktu Anda tinggi, belum tentu Anda menderita diabetes. Bisa jadi kondisi ini merupakan pengaruh dari makanan atau minuman yang baru saja Anda konsumsi.

Apabila hasil tes gula darah sewaktu Anda menunjukkan kadar yang rendah, namun Anda tidak merasa lemas atau pusing, kemungkinan ada kesalahan pada alat atau teknik pemeriksaan. Oleh karena itu, Anda perlu mendiskusikan kembali hasil pemeriksaan ini dengan dokter.

Sangat dianjurkan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter mengenai tes apa yang cocok untuk Anda jalani. Tanyakan pula kepada dokter mengenai risiko atau hal-hal lainnya yang berkaitan dengan tes tersebut.

Lalu Berapa Kadar Gula Darah Normal?

Kadar gula darah normal tidak selalu sama, tergantung kapan tes dilakukan, setelah atau sebelum makan. Berikut ini adalah batasan kadar gula darah normal, namun memiliki patokan yang berbeda-beda.

Tes gula darah setelah makan

Jika tes gula darah dilakukan dua jam setelah makan, maka kadar gula darah normal adalah kurang dari 140 mg/dL atau 7.8 mmol/L. Batasan ini berlaku untuk orang berusia di bawah 50 tahun.

Bagi orang yang berusia 50-60 tahun, kadar normalnya adalah kurang dari 150 mg/dL atau 8.3 mmol/L. Sedangkan pada orang berusia 60 tahun ke atas, kadar gula darah normal adalah 160 mg/dL atau 8.9 mmol/L.

Tes gula darah setelah puasa

Jika tes gula darah dilakukan setelah puasa, maka kadar gula darah yang normal seharusnya kurang atau sama dengan 100 mg/dL atau 5.6 mmol/L.

Tes gula darah secara acak

Jika tes gula darah dilakukan secara acak (tes gula darah sewaktu), maka hasilnya tidak bisa disamakan, tergantung dari kapan tes dilakukan dan apa yang dikonsumsi sebelum tes.

Secara umum, kadar gula darah normal adalah 80-120 mg/dL atau 4.4-6.6 mmol/L, jika tes dilakukan sebelum makan atau setelah bangun tidur. Sedangkan jika tes dilakukan sebelum tidur, batasan normalnya adalah 100-140 mg/dL atau 5.5-7.7 mmol/L.

Tes hemoglobin untuk gula darah

Pada tes hemoglobin untuk gula darah (HbA1c), kadar normalnya adalah kurang dari atau sekitar 7 persen.

Namun perlu Anda ingat, batasan yang dipakai setiap laboratorium mungkin akan berbeda, tergantung alat yang digunakan. Jadi, gunakanlah patokan yang diberikan oleh laboratorim tempat Anda memeriksa gula darah.

Di samping itu, pastikan juga Anda mencatat tanggal tes dan hasilnya, serta apa saja yang Anda konsumsi dan aktivitas yang Anda lakukan sebelum menjalani tes tersebut.

Hasil pemeriksaan gula darah yang normal tidak selalu dapat menandakan bahwa Anda tidak berisiko menderita diabetes. Guna memastikannya, Anda tetap dianjurkan untuk mengonsultasikan hasil pemeriksaan gula darah Anda pada dokter, terlebih jika Anda mengalami gejala diabetes atau memiliki risiko untuk mengalami diabetes.

Pemeriksaan gula darah hendaknya dilakukan dengan bijak dan sesuai dengan kebutuhan. Jalani pemeriksaan gula darah sesuai dengan saran dokter dan terapkanlah pola hidup sehat guna mencegah dampak buruk dari tinggi atau rendahnya kadar gula darah.

Ciri-Ciri dan Gejala Gula Darah Tinggi (Hiperglikemia)

Adakah diantara para pembaca yang nafsu makannya menggila namun berat badan malah menurun, mudah mengantuk dan lelah, sering kehausan, dan sering buang air kecil di malam hari? Waspadalah! ini semua merupakan gejala gula darah tinggi. Jangan biarkan ini berlarut-larut, karena dapat membahayakan kondisi kesehatan. Gula darah tinggi atau hiperglikemia merupakan keadaan di mana terjadi peningkatan kadar glukosa di dalam tubuh hingga diatas 200 mg/dL akibat resistensi insulin. Seringkali kondisi ini dialami oleh penderita diabetes atau pra diabetes. Namun, tidak menutup kemungkinan orang normal di luar diabetes juga dapat mengalaminya, terlebih jika sedang stres atau sedang menderita sakit berat. Curiga mengalami gejala gula darah tinggi? pastikan dengan tes gula darah sederhana Gejala hiperglikemia ada yang ringan (kadar gula 200mg/dL-350 mg/dL) sampai yang berat (kadar gula diatas 350 mg/dL), sedangkan kadar gula darah normal adalah dibawah 200 mg/dL seperti dijelaskan dalam artikel: Inilah Kadar Gula Darah Normal dan Tidak Normal. Gejala gula darah tinggi yang masih dalam tahap ringan biasanya ditandai dengan meningkatnya nafsu makan, penurun berat badan, meningkatnya intensitas buang air kecil, dan sering kehausan. Sedangkan gejala beratnya seperti, penglihatan kabur, kehausan yang ekstrim dan pusing hingga merasa akan pingsan. Untuk lebih jelasnya mari kita ulas satu persatu tentang gejala, penyebab dan cara mengatasi gula darah tinggi.
Apa Saja Sih Gejala Gula Darah Tinggi?
Gejala Hiperglikemia Ringan
Gejala ringan akan dirasakan oleh seseorang apabila kadar gula darahnya secara konsisten berada di kisaran 200 mg/dL sampai 350 mg/dL pada orang dewasa, dan 200 mg/dL sampai 240 mg/dL pada anak-anak. Sayangnya sebagian orang terutama yang menderita diabetes kurang memperhatikan gejalanya. Akibatnya, kondisi kesehatan mereka pun semakin buruk. Oleh karena itu, perhatikanlah beberapa gejala gula darah tinggi berikut ini:
Sering merasa kehausan, mulut pun terasa kering.
Intensitas buang air kecil meningkat, terutama di malam hari (sering buang air kecil)
Nafsu makan meningkat, namun berat badan malah menurun.
Mudah lelah.
Kulit terasa kering.
Gejala Hiperglikemia Berat
Jika gejala gula darah tinggi di atas tidak segera diatasi, maka kondisi tubuh pun akan semakin memburuk. Namun, gejala yang cukup berat juga dapat langsung dirasakan oleh seseorang dengan kadar gula di atas 350mg/dL pada orang dewasa, dan di atas 240 mg/dL pada anak-anak. Gejala-gejala gula darah tinggi berat antara lain:
Penglihatan menjadi buram/kabur.
Menjadi linglung.
Kehausan yang semakin ekstrim.
Pusing hingga merasa akan pingsan.
Wajah memerah, terasa hangat/panas dan kulit mengering.
Menjadi amat sangat mengantuk, hingga enggan untuk bangun dari tidur.
Untuk seseorang yang menderita diabetes tipe 1 dan 2, yang menghasilkan sedikit insulin atau tidak sama sekali, maka akan ditandai dengan gejala sebagai berikut:
Nafas menjadi terengah-engah.
Jantung berdebar-debar.
Bau napas tak sedap.
Mual, muntah dan kehilangan nafsu makan.
Apa yang Menyebabkan Gula Darah Tinggi?
Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan gula darah tinggi, antara lain sebagai berikut:
Stress.
Infeksi, seperti flu atau selesma.
Makan terlalu banyak.
Kurang olahraga.
Dehidrasi.
Penderita diabetes yang melewatkan dosis obatnya.
Menjalani treatment hipoglikemia (gula darah rendah).
Mengonsumsi obat-obatan tertentu, seperti obat steroid.
Bagaimana Mengatasi Gula Darah Tinggi?
Apabila gejala gula darah tinggi masih dalam tahap ringan, biasanya dapat dengan mudah ditangani. Bahkan terkadang tak perlu pengobatan khusus, karena gejala tersebut dapat hilang dengan sendirinya. Lain cerita apabila gejalanya sudah dirasa cukup berat akibat kadar gula darah yang sudah amat tinggi. Dalam kondisi ini terutama bagi penderita diabetes, pengobatan khusus sangatlah diperlukan. Karena apabila tidak ditangani dengan cepat dan tepat, maka dapat menyebabkan komplikasi yang akan mengancam nyawa, seperti:
Ketoasidosis Diabetes (KAD). Suatu kondisi yang ditandai dengan adanya peningkatan kadar keton dalam darah dan keasaman darah yang meningkat. Merupakan kedaruratan diabetes tipe I yang dapat menyebabkan koma dan kematian. Baca selengkapnya: KAD (Ketoasidosis Diabetik)
Status Hiposmolar Hiperglikemik (SHH). Dehidrasi berat akibat kadar gula darah yang sangat tinggi. Merupakan komplikasi akut pada diabetes tipe 2.
Berikut beberapa cara mengatasi dan mencegah gula darah tinggi:
Mengubah pola makan. Jangan berlebihan saat makan, berhentilah sebelum kenyang. Batasi/hindari makanan yang menyebabkan lonjakan kadar gula darah, seperti kue atau minuman manis dan hindarilah makanan pantangan penderita diabetes
Perbanyak asupan cairan ke dalam tubuh. Cukupi kebutuhan minum air putih per harinya (8-10 gelas) atau tergantung aktivitas.
Olahraga teratur. Olahraga ringan dan teratur seperti berjalan atau bersepeda dapat menurunkan kadar gula darah sekaligus membantu menurunkan berat badan.
Untuk pengguna insulin, sesuaikan dosisnya. Jangan melewatkan atau menyalahi dosis yang telah dianjurkan dokter.
Pantau kadar gula darah. Usahakan untuk rutin memantau kadar gula darah. Perhatikan apa saja yang menyebabkan gula darah meningkat.
Memang keberadaan gula dalam tubuh sangat dibutuhkan sebagai sumber energi. Namun, bukan berarti kita dapat sesuka hati mengonsumsinya. Jika mengikuti saran dari Kementerian Kesehatan RI maka konsumsi gula per hari per orang yaitu, 50 gram (4 sendok makan). Jadi, jagalah asupan gula per harinya demi menghindari melonjaknya kadar gula darah sekaligus meminimalisir resiko kesehatan.

Indeks Glikemik dan Diabetes

Indeks glikemik, atau GI, mengukur berapa kandungan karbohidrat yang meningkatkan glukosa darah yang tersedia di dalam suatu makanan. Makanan dengan GI tinggi menghasilkan lebih banyak glukosa darah dibandingkan makanan dengan GI rendah.

Untuk pengelolaan gula darah, Anda dianjurkan memilih makanan dengan GI rendah atau edang. Jika Anda makan makanan dengan GI tinggi, Anda dapat menggabungkannya dengan makanan GI rendah untuk membantu menyeimbangkan makanan.

Contoh makanan yang mengandung karbohidrat dengan GI rendah adalah nasi merah, kacang-kacangan (seperti kacang merah dan lentil), semua sayuran non-tepung, beberapa sayuran bertepung seperti kentang manis, buah, dan roti gandum utuh (whole wheat) dan sereal (seperti barley, gandum roti, roti gandum, dan semua-sereal bekatul).

Daging dan lemak tidak memiliki GI karena mereka tidak mengandung karbohidrat.

Di bawah ini adalah contoh makanan berdasarkan GI mereka:

Makanan GI rendah (55 atau kurang)

  • Roti 100{97eedb18bcef765cfd5ae1f5706881693b751538d89d413bc1acefc35aca0452} gandum  (whole wheat)
  • Oatmeal, oat bran, muesli
  • Pasta, beras merah, barley, bulgar
  • Ubi jalar, jagung, ubi, kacang polong, lentil, dan kacang-kacangan lain
  • Buah-buahan pada umumnya, sayuran non-tepung, dan wortel

GI menengah (56-69)

  • Semua jenis gandum
  • Oatmeal siap saji
  • Coklat, nasi basmati

GI tinggi (70 atau lebih)

  • Roti putih atau bagel
  • Serpih jagung, beras kembung, bran flakes, dan oatmeal instant
  • Nasi putih shortgrain, pasta non-gandum
  • Kentang, labu
  • Pretzel, kue beras, popcorn, biskuit asin
  • Melon dan nanas

Apa yang mempengaruhi GI makanan?

Lemak dan serat cenderung menurunkan GI sebuah makanan. Sebagai aturan umum, semakin dimasak atau diolah suatu makanan, semakin tinggi GI makanan tersebut. Namun, hal ini tidak selalu benar.

Berikut contoh spesifik beberapa faktor lain yang dapat mempengaruhi GI suatu makanan:

  • Kematangan dan waktu penyimpanan – lebih matang buah atau sayuran, GI semakin tinggi
  • Pengolahan – jus memiliki GI tinggi dari buah yang utuh; kentang tumbuk memiliki GI lebih tinggi dari kentang panggang utuh, roti gandum utuh (whole wheat) memiliki GI lebih rendah dari roti gandum
  • Metode memasak – berapa lama makanan dimasak (pasta al dente memiliki GI lebih rendah dari pasta yang dimasak sampai lunak)
  • Ragam – nasi putih dengan butiran pendek memiliki GI lebih tinggi dari beras merah.

Pertimbangan lainnya

Nilai GI merupakan jenis karbohidrat dalam suatu makanan, tetapi tidak memberikan informasi tentang berapa jumlah karbohidrat yang biasanya dimakan. Ukuran porsi makanan masih relevan untuk mengelola tingkat glukosa darah, baik untuk menurunkan atau mempertahankan berat badan.

GI makanan berbeda ketika dimakan dan bila dikombinasikan dengan makanan lain. Ketika makan makanan dengan GI tinggi, Anda dapat menggabungkan dengan makanan GI rendah lainnya untuk mengimbangi efek pada kadar glukosa darah.

Banyak makanan bergizi memiliki GI tinggi dari makanan dengan nilai gizi sedikit. Misalnya, oatmeal memiliki GI tinggi dari cokelat. Penggunaan GI perlu diimbangi dengan prinsip gizi dasar variasi untuk makanan sehat dan penyesuaian makanan dengan beberapa nutrisi.

GI atau menghitung karbohidrat?

Tidak ada satu diet atau rencana makan yang cocok untuk semua orang dengan penyakit diabetes. Yang penting adalah untuk mengikuti rencana makan yang disesuaikan dengan preferensi pribadi dan gaya hidup, serta membantu mencapai tujuan untuk mengendalikan glukosa darah, kadar kolesterol dan trigliserida, tekanan darah, dan manajemen berat badan.

Penelitian menunjukkan, baik jumlah dan jenis karbohidrat dalam makanan mempengaruhi kadar glukosa darah. Studi juga menunjukkan jumlah total karbohidrat dalam makanan, secara umum, adalah prediktor kuat dari respon glukosa darah dari GI.

Berdasarkan penelitian, bagi kebanyakan orang dengan diabetes, alat pertama untuk mengelola glukosa darah adalah penghitungan karbohidrat.

Karena jenis karbohidrat dapat mempengaruhi glukosa darah, penggunaan GI mungkin membantu dalam “fine-tuning” manajemen glukosa darah. Dengan kata lain, menghitung GI dikombinasikan dengan menghitung karbohidrat dapat memberikan manfaat tambahan untuk mencapai tujuan kadar glukosa darah bagi individu yang ingin menempatkan usaha ekstra dalam pemantauan pilihan makanan mereka.