Penyebab Diabetes Tipe 2

Pankreas memproduksi hormon insulin yang bertugas untuk membantu sel dalam tubuh mengubah zat gula (glukosa), yang didapat dari makanan atau dihasilkan hati, menjadi energi. Diabetes tipe 2 terjadi ketika sel tubuh tidak dapat menggunakan insulin sebagaimana mestinya.

Penyebab gangguan pada sel tubuh tersebut belum diketahui secara pasti. Namun, diduga gen menjadi salah satu faktor pemicunya. Risiko seseorang mengalami penyakit ini juga meningkat ketika berusia 45 tahun atau lebih, dan memiliki anggota keluarga yang juga penderita diabetes.

Selain gen, diabetes tipe 2 juga diduga dapat dipicu oleh kondisi dan pola hidup pasien. Beberapa kondisi yang diduga berisiko menimbulkan diabetes tipe 2 adalah:

  • Prediabetes.
  • Gangguan jantung dan pembuluh darah.
  • Hipertensi.
  • Tingkat kolesterol baik (HDL) yang
  • Trigliserida tinggi.
  • Obesitas.
  • Diabetes gestational, yaitu diabetes yang terjadi selama kehamilan.
  • PCOS.
  • Agantosis nigrikans.

Selain kondisi-kondisi di atas, gaya hidup juga memengaruhi risiko terjadinya diabetes tipe 2. Beberapa gaya hidup yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami penyakit ini adalah:

  • Kurang berolahraga.
  • Merokok.
  • Sering stress.
  • Kurang istirahat.
Terakhir diperbarui: 9 November 2018
Ditinjau oleh: dr. Tjin Willy

Pengertian Diabetes Tipe 1

Diabetes tipe 1 adalah kondisi yang ditandai dengan tingginya kadar gula atau glukosa dalam darah. Berbeda dari diabetes tipe 2 yang terjadi akibat resistensi insulin atau karena sel tubuh menjadi kebal atau tidak responsif terhadap insulin, diabetes tipe 1 terjadi ketika tubuh kurang atau sama sekali tidak memproduksi insulin. Akibatnya, penderita diabetes tipe 1 memerlukan tambahan insulin dari luar.

alodokter-diabetes-tipe1

Normalnya, kadar gula dalam darah dikontrol oleh hormon insulin yang dihasilkan oleh pankreas. Ketika makanan yang masuk ke tubuh dicerna dan masuk ke aliran darah, insulin akan mengikat glukosa dalam darah dan membawanya masuk ke sel untuk diubah menjadi energi. Namun pada penderita diabetes, tubuh tidak dapat mengolah glukosa menjadi energi. Kondisi ini terjadi karena tidak ada insulin untuk membawa glukosa masuk ke dalam sel. Akibatnya, glukosa akan menumpuk dalam darah.

Diabetes tipe 1 lebih jarang terjadi dibanding diabetes tipe 2. Diketahui hanya ada 10 persen penderita diabetes tipe 1 dari seluruh kasus diabetes di seluruh dunia.

Terakhir diperbarui: 11 Desember 2018
Ditinjau oleh: dr. Tjin Willy

Arti Tinggi dan Rendahnya Kadar Gula Darah

Kadar gula darah adalah banyaknya zat gula atau glukosa di dalam darah. Meskipun senantiasa mengalami perubahan, kadar gula darah perlu dijaga dalam batas normal agar tidak terjadi gangguan di dalam tubuh.

Kadar gula darah dipengaruhi oleh asupan nutrisi dari makanan atau minuman, khususnya karbohidrat, serta jumlah insulin dan kepekaan sel-sel tubuh terhadap insulin. Kadar gula darah yang terlalu tinggi atau terlalu rendah akan memberikan dampak buruk bagi kesehatan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

 

Arti Tinggi dan Rendahnya Kadar Gula Darah - Alodokter

Apa yang Terjadi jika Gula Darah Terlalu Tinggi?

Kadar gula darah dikatakan terlalu tinggi jika melebihi 200 mg/dL. Istilah medis untuk kadar gula darah terlalu tinggi adalah hiperglikemia.

Hiperglikemia dapat terjadi ketika tubuh tidak memiliki cukup insulin, yaitu hormon yang dilepas oleh pankreas. Insulin berfungsi menyebarkan gula dari darah ke seluruh sel-sel tubuh agar bisa diproses menjadi energi.

Gula darah tinggi juga dapat terjadi bila sel-sel tubuh tidak sensitif terhadap insulin, sehingga gula dari darah tidak dapat masuk ke dalam sel untuk diproses.

Gula darah tinggi sering dialami oleh penderita diabetes yang tidak menjalani gaya hidup sehat, misalnya terlalu banyak makan, kurang berolahraga, atau lupa mengonsumsi obat diabetes atau insulin. Selain itu, gula darah tinggi pada penderita diabetes juga dapat dipicu oleh stres, infeksi, atau mengonsumsi obat-obatan tertentu.

Orang normal yang tidak menderita diabetes juga bisa terkena hiperglikemia, terutama jika sedang mengalami sakit berat. Tanda-tanda Anda memiliki kadar gula darah terlalu tinggi adalah badan terasa lelah, nafsu makan sangat tinggi, bobot tubuh berkurang, sering merasa haus, dan sering buang air kecil.

Jika kadar gula darah mencapai 350 mg/dL atau lebih, gejala yang dapat muncul adalah sangat haus, penglihatan buram, pusing, gelisah, dan penurunan kesadaran. Di samping itu, kulit akan terlihat memerah, kering, dan terasa panas.

Apabila tidak segera ditangani, kadar gula darah yang terlalu tinggi bisa menimbulkan ketoasidosis diabetik atau sindrom hiperglikemi hiperosmolar, yang dapat berakibat fatal.

Selain itu, kadar gula darah tinggi dalam jangka waktu lama tanpa pengobatan dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi pada gigi dan gusi, masalah kulit, osteoporosis, gagal ginjal, kerusakan saraf, kebutaan, serta penyakit kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah).

Apa yang Terjadi jika Gula Darah Terlalu Rendah?

Gula darah terlalu rendah atau hipoglikemia terjadi ketika kadar gula darah di bawah 70 mg/dL. Kondisi ini juga umum terjadi pada penderita diabetes, yaitu akibat efek samping obat antidiabetes yang dikonsumsinya. Obat antidiabetes, khususnya insulin, bisa menurunkan kadar gula darah secara berlebihan.

Penderita diabetes tipe 1 tidak memiliki hormon insulin dalam jumlah yang cukup. Oleh karena itu, diperlukan tambahan insulin dari luar yang biasanya berupa suntikan. Namun jika dosisnya terlalu tinggi, insulin bisa membuat gula darah turun drastis.

Pada penderita diabetes, hipoglikemia dapat terjadi jika penggunaan insulin atau obat antidiabetes tidak diiringi oleh asupan makanan yang cukup. Olahraga yang berlebihan juga dapat memicu kondisi ini.

Bukan hanya penderita diabetes, orang yang tidak menderita diabetes pun bisa mengalami hipoglikemia atau gula darah rendah. Beberapa penyebabnya adalah:

  • Terlalu banyak minum minuman beralkohol.
  • Menderita penyakit tertentu, seperti hepatitis, anoreksia nervosa, atau tumor pada pankreas.
  • Kekurangan hormon tertentu.
  • Mengonsumsi obat-obatan tertentu, misalnya quinine.
  • Tanpa sengaja mengonsumsi obat antidiabetes milik orang lain.

Jika kadar gula darah rendah, tubuh akan terasa lemas dan tidak bertenaga. Gejala lain yang bisa Anda alami adalah lapar, keluar keringat dingin, kulit pucat, jantung berdebar, kesemutan di area mulut, gelisah, dan mudah marah.

Sedangkan gejala yang akan Anda alami ketika kadar gula darah terlalu rendah (di bawah 40 mg/dL), antara lain:

  • Bicara melantur
  • Sulit konsentrasi
  • Tidak mampu berdiri atau berjalan
  • Otot berkedut
  • Kejang

Jika didiamkan, kondisi ini dapat menyebabkan stroke, koma, bahkan kematian.

Mari Cek Gula Darah Anda

Tes gula darah umumnya dianjurkan bagi orang yang memiliki gejala diabetes, seperti sering haus, sering buang air kecil, dan sering merasa lapar. Selain itu, tes ini juga dapat dianjurkan bagi orang-orang yang memiliki riwayat diabetes dalam keluarga.

Cara untuk mengetahui kadar gula darah adalah dengan melakukan tes darah. Tes ini berguna untuk memonitor kadar gula darah dalam tubuh Anda, agar tidak keluar dari batas normal.

Tes gula darah bisa dilakukan sendiri di rumah menggunakan alat glukometer. Sampel darah untuk pemeriksaan ini diambil dengan menusuk ujung jari menggunakan jarum khusus.

Anda juga bisa melakukan tes gula darah di rumah sakit. Ada beberapa jenis tes gula darah yang bisa dilakukan:

Tes gula darah puasa

Anda diharuskan puasa delapan jam sebelum pengambilan sampel darah. Tes ini sering dipakai untuk mendiagnosis kondisi pradiabetes dan penyakit diabetes.

Tes toleransi glukosa oral (TTGO)

Dalam tes ini Anda akan diberikan glukosa dalam jumlah tertentu, dan dua jam kemudian, kadar gula dalam darah Anda akan diperiksa.

Tes hemoglobin A1c (HbA1c) atau glikohemoglobin

Tes ini dilakukan untuk mengetahui kadar gula darah pada sel darah merah. Hasil tes HbA1c dapat memberi informasi mengenai kadar gula Anda selama 2-3 bulan terakhir.

Tes ini memudahkan dokter untuk menyesuaikan dosis dan jenis obat-obatan antidiabetes, jika diperlukan. Anda tidak perlu menjalani persiapan khusus untuk melakukan tes ini.

Tes gula darah sewaktu

Tes ini bisa dilakukan kapan saja dan tidak memerlukan persiapan khusus. Namun, pemeriksaan gula darah sewaktu tidak dapat digunakan untuk mendiagnosa diabetes.

Pemeriksaan ini hanya dipakai untuk memantau naik-turunnya gula darah pada penderita diabetes, atau untuk melihat kadar gula darah pada pasien dengan kondisi tertentu, misalnya lemas atau pingsan.

Jika hasil tes gula darah sewaktu Anda tinggi, belum tentu Anda menderita diabetes. Bisa jadi kondisi ini merupakan pengaruh dari makanan atau minuman yang baru saja Anda konsumsi.

Apabila hasil tes gula darah sewaktu Anda menunjukkan kadar yang rendah, namun Anda tidak merasa lemas atau pusing, kemungkinan ada kesalahan pada alat atau teknik pemeriksaan. Oleh karena itu, Anda perlu mendiskusikan kembali hasil pemeriksaan ini dengan dokter.

Sangat dianjurkan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter mengenai tes apa yang cocok untuk Anda jalani. Tanyakan pula kepada dokter mengenai risiko atau hal-hal lainnya yang berkaitan dengan tes tersebut.

Lalu Berapa Kadar Gula Darah Normal?

Kadar gula darah normal tidak selalu sama, tergantung kapan tes dilakukan, setelah atau sebelum makan. Berikut ini adalah batasan kadar gula darah normal, namun memiliki patokan yang berbeda-beda.

Tes gula darah setelah makan

Jika tes gula darah dilakukan dua jam setelah makan, maka kadar gula darah normal adalah kurang dari 140 mg/dL atau 7.8 mmol/L. Batasan ini berlaku untuk orang berusia di bawah 50 tahun.

Bagi orang yang berusia 50-60 tahun, kadar normalnya adalah kurang dari 150 mg/dL atau 8.3 mmol/L. Sedangkan pada orang berusia 60 tahun ke atas, kadar gula darah normal adalah 160 mg/dL atau 8.9 mmol/L.

Tes gula darah setelah puasa

Jika tes gula darah dilakukan setelah puasa, maka kadar gula darah yang normal seharusnya kurang atau sama dengan 100 mg/dL atau 5.6 mmol/L.

Tes gula darah secara acak

Jika tes gula darah dilakukan secara acak (tes gula darah sewaktu), maka hasilnya tidak bisa disamakan, tergantung dari kapan tes dilakukan dan apa yang dikonsumsi sebelum tes.

Secara umum, kadar gula darah normal adalah 80-120 mg/dL atau 4.4-6.6 mmol/L, jika tes dilakukan sebelum makan atau setelah bangun tidur. Sedangkan jika tes dilakukan sebelum tidur, batasan normalnya adalah 100-140 mg/dL atau 5.5-7.7 mmol/L.

Tes hemoglobin untuk gula darah

Pada tes hemoglobin untuk gula darah (HbA1c), kadar normalnya adalah kurang dari atau sekitar 7 persen.

Namun perlu Anda ingat, batasan yang dipakai setiap laboratorium mungkin akan berbeda, tergantung alat yang digunakan. Jadi, gunakanlah patokan yang diberikan oleh laboratorim tempat Anda memeriksa gula darah.

Di samping itu, pastikan juga Anda mencatat tanggal tes dan hasilnya, serta apa saja yang Anda konsumsi dan aktivitas yang Anda lakukan sebelum menjalani tes tersebut.

Hasil pemeriksaan gula darah yang normal tidak selalu dapat menandakan bahwa Anda tidak berisiko menderita diabetes. Guna memastikannya, Anda tetap dianjurkan untuk mengonsultasikan hasil pemeriksaan gula darah Anda pada dokter, terlebih jika Anda mengalami gejala diabetes atau memiliki risiko untuk mengalami diabetes.

Pemeriksaan gula darah hendaknya dilakukan dengan bijak dan sesuai dengan kebutuhan. Jalani pemeriksaan gula darah sesuai dengan saran dokter dan terapkanlah pola hidup sehat guna mencegah dampak buruk dari tinggi atau rendahnya kadar gula darah.

Ciri-Ciri dan Gejala Gula Darah Tinggi (Hiperglikemia)

Adakah diantara para pembaca yang nafsu makannya menggila namun berat badan malah menurun, mudah mengantuk dan lelah, sering kehausan, dan sering buang air kecil di malam hari? Waspadalah! ini semua merupakan gejala gula darah tinggi. Jangan biarkan ini berlarut-larut, karena dapat membahayakan kondisi kesehatan. Gula darah tinggi atau hiperglikemia merupakan keadaan di mana terjadi peningkatan kadar glukosa di dalam tubuh hingga diatas 200 mg/dL akibat resistensi insulin. Seringkali kondisi ini dialami oleh penderita diabetes atau pra diabetes. Namun, tidak menutup kemungkinan orang normal di luar diabetes juga dapat mengalaminya, terlebih jika sedang stres atau sedang menderita sakit berat. Curiga mengalami gejala gula darah tinggi? pastikan dengan tes gula darah sederhana Gejala hiperglikemia ada yang ringan (kadar gula 200mg/dL-350 mg/dL) sampai yang berat (kadar gula diatas 350 mg/dL), sedangkan kadar gula darah normal adalah dibawah 200 mg/dL seperti dijelaskan dalam artikel: Inilah Kadar Gula Darah Normal dan Tidak Normal. Gejala gula darah tinggi yang masih dalam tahap ringan biasanya ditandai dengan meningkatnya nafsu makan, penurun berat badan, meningkatnya intensitas buang air kecil, dan sering kehausan. Sedangkan gejala beratnya seperti, penglihatan kabur, kehausan yang ekstrim dan pusing hingga merasa akan pingsan. Untuk lebih jelasnya mari kita ulas satu persatu tentang gejala, penyebab dan cara mengatasi gula darah tinggi.
Apa Saja Sih Gejala Gula Darah Tinggi?
Gejala Hiperglikemia Ringan
Gejala ringan akan dirasakan oleh seseorang apabila kadar gula darahnya secara konsisten berada di kisaran 200 mg/dL sampai 350 mg/dL pada orang dewasa, dan 200 mg/dL sampai 240 mg/dL pada anak-anak. Sayangnya sebagian orang terutama yang menderita diabetes kurang memperhatikan gejalanya. Akibatnya, kondisi kesehatan mereka pun semakin buruk. Oleh karena itu, perhatikanlah beberapa gejala gula darah tinggi berikut ini:
Sering merasa kehausan, mulut pun terasa kering.
Intensitas buang air kecil meningkat, terutama di malam hari (sering buang air kecil)
Nafsu makan meningkat, namun berat badan malah menurun.
Mudah lelah.
Kulit terasa kering.
Gejala Hiperglikemia Berat
Jika gejala gula darah tinggi di atas tidak segera diatasi, maka kondisi tubuh pun akan semakin memburuk. Namun, gejala yang cukup berat juga dapat langsung dirasakan oleh seseorang dengan kadar gula di atas 350mg/dL pada orang dewasa, dan di atas 240 mg/dL pada anak-anak. Gejala-gejala gula darah tinggi berat antara lain:
Penglihatan menjadi buram/kabur.
Menjadi linglung.
Kehausan yang semakin ekstrim.
Pusing hingga merasa akan pingsan.
Wajah memerah, terasa hangat/panas dan kulit mengering.
Menjadi amat sangat mengantuk, hingga enggan untuk bangun dari tidur.
Untuk seseorang yang menderita diabetes tipe 1 dan 2, yang menghasilkan sedikit insulin atau tidak sama sekali, maka akan ditandai dengan gejala sebagai berikut:
Nafas menjadi terengah-engah.
Jantung berdebar-debar.
Bau napas tak sedap.
Mual, muntah dan kehilangan nafsu makan.
Apa yang Menyebabkan Gula Darah Tinggi?
Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan gula darah tinggi, antara lain sebagai berikut:
Stress.
Infeksi, seperti flu atau selesma.
Makan terlalu banyak.
Kurang olahraga.
Dehidrasi.
Penderita diabetes yang melewatkan dosis obatnya.
Menjalani treatment hipoglikemia (gula darah rendah).
Mengonsumsi obat-obatan tertentu, seperti obat steroid.
Bagaimana Mengatasi Gula Darah Tinggi?
Apabila gejala gula darah tinggi masih dalam tahap ringan, biasanya dapat dengan mudah ditangani. Bahkan terkadang tak perlu pengobatan khusus, karena gejala tersebut dapat hilang dengan sendirinya. Lain cerita apabila gejalanya sudah dirasa cukup berat akibat kadar gula darah yang sudah amat tinggi. Dalam kondisi ini terutama bagi penderita diabetes, pengobatan khusus sangatlah diperlukan. Karena apabila tidak ditangani dengan cepat dan tepat, maka dapat menyebabkan komplikasi yang akan mengancam nyawa, seperti:
Ketoasidosis Diabetes (KAD). Suatu kondisi yang ditandai dengan adanya peningkatan kadar keton dalam darah dan keasaman darah yang meningkat. Merupakan kedaruratan diabetes tipe I yang dapat menyebabkan koma dan kematian. Baca selengkapnya: KAD (Ketoasidosis Diabetik)
Status Hiposmolar Hiperglikemik (SHH). Dehidrasi berat akibat kadar gula darah yang sangat tinggi. Merupakan komplikasi akut pada diabetes tipe 2.
Berikut beberapa cara mengatasi dan mencegah gula darah tinggi:
Mengubah pola makan. Jangan berlebihan saat makan, berhentilah sebelum kenyang. Batasi/hindari makanan yang menyebabkan lonjakan kadar gula darah, seperti kue atau minuman manis dan hindarilah makanan pantangan penderita diabetes
Perbanyak asupan cairan ke dalam tubuh. Cukupi kebutuhan minum air putih per harinya (8-10 gelas) atau tergantung aktivitas.
Olahraga teratur. Olahraga ringan dan teratur seperti berjalan atau bersepeda dapat menurunkan kadar gula darah sekaligus membantu menurunkan berat badan.
Untuk pengguna insulin, sesuaikan dosisnya. Jangan melewatkan atau menyalahi dosis yang telah dianjurkan dokter.
Pantau kadar gula darah. Usahakan untuk rutin memantau kadar gula darah. Perhatikan apa saja yang menyebabkan gula darah meningkat.
Memang keberadaan gula dalam tubuh sangat dibutuhkan sebagai sumber energi. Namun, bukan berarti kita dapat sesuka hati mengonsumsinya. Jika mengikuti saran dari Kementerian Kesehatan RI maka konsumsi gula per hari per orang yaitu, 50 gram (4 sendok makan). Jadi, jagalah asupan gula per harinya demi menghindari melonjaknya kadar gula darah sekaligus meminimalisir resiko kesehatan.

Indeks Glikemik dan Diabetes

Indeks glikemik, atau GI, mengukur berapa kandungan karbohidrat yang meningkatkan glukosa darah yang tersedia di dalam suatu makanan. Makanan dengan GI tinggi menghasilkan lebih banyak glukosa darah dibandingkan makanan dengan GI rendah.

Untuk pengelolaan gula darah, Anda dianjurkan memilih makanan dengan GI rendah atau edang. Jika Anda makan makanan dengan GI tinggi, Anda dapat menggabungkannya dengan makanan GI rendah untuk membantu menyeimbangkan makanan.

Contoh makanan yang mengandung karbohidrat dengan GI rendah adalah nasi merah, kacang-kacangan (seperti kacang merah dan lentil), semua sayuran non-tepung, beberapa sayuran bertepung seperti kentang manis, buah, dan roti gandum utuh (whole wheat) dan sereal (seperti barley, gandum roti, roti gandum, dan semua-sereal bekatul).

Daging dan lemak tidak memiliki GI karena mereka tidak mengandung karbohidrat.

Di bawah ini adalah contoh makanan berdasarkan GI mereka:

Makanan GI rendah (55 atau kurang)

  • Roti 100{97eedb18bcef765cfd5ae1f5706881693b751538d89d413bc1acefc35aca0452} gandum  (whole wheat)
  • Oatmeal, oat bran, muesli
  • Pasta, beras merah, barley, bulgar
  • Ubi jalar, jagung, ubi, kacang polong, lentil, dan kacang-kacangan lain
  • Buah-buahan pada umumnya, sayuran non-tepung, dan wortel

GI menengah (56-69)

  • Semua jenis gandum
  • Oatmeal siap saji
  • Coklat, nasi basmati

GI tinggi (70 atau lebih)

  • Roti putih atau bagel
  • Serpih jagung, beras kembung, bran flakes, dan oatmeal instant
  • Nasi putih shortgrain, pasta non-gandum
  • Kentang, labu
  • Pretzel, kue beras, popcorn, biskuit asin
  • Melon dan nanas

Apa yang mempengaruhi GI makanan?

Lemak dan serat cenderung menurunkan GI sebuah makanan. Sebagai aturan umum, semakin dimasak atau diolah suatu makanan, semakin tinggi GI makanan tersebut. Namun, hal ini tidak selalu benar.

Berikut contoh spesifik beberapa faktor lain yang dapat mempengaruhi GI suatu makanan:

  • Kematangan dan waktu penyimpanan – lebih matang buah atau sayuran, GI semakin tinggi
  • Pengolahan – jus memiliki GI tinggi dari buah yang utuh; kentang tumbuk memiliki GI lebih tinggi dari kentang panggang utuh, roti gandum utuh (whole wheat) memiliki GI lebih rendah dari roti gandum
  • Metode memasak – berapa lama makanan dimasak (pasta al dente memiliki GI lebih rendah dari pasta yang dimasak sampai lunak)
  • Ragam – nasi putih dengan butiran pendek memiliki GI lebih tinggi dari beras merah.

Pertimbangan lainnya

Nilai GI merupakan jenis karbohidrat dalam suatu makanan, tetapi tidak memberikan informasi tentang berapa jumlah karbohidrat yang biasanya dimakan. Ukuran porsi makanan masih relevan untuk mengelola tingkat glukosa darah, baik untuk menurunkan atau mempertahankan berat badan.

GI makanan berbeda ketika dimakan dan bila dikombinasikan dengan makanan lain. Ketika makan makanan dengan GI tinggi, Anda dapat menggabungkan dengan makanan GI rendah lainnya untuk mengimbangi efek pada kadar glukosa darah.

Banyak makanan bergizi memiliki GI tinggi dari makanan dengan nilai gizi sedikit. Misalnya, oatmeal memiliki GI tinggi dari cokelat. Penggunaan GI perlu diimbangi dengan prinsip gizi dasar variasi untuk makanan sehat dan penyesuaian makanan dengan beberapa nutrisi.

GI atau menghitung karbohidrat?

Tidak ada satu diet atau rencana makan yang cocok untuk semua orang dengan penyakit diabetes. Yang penting adalah untuk mengikuti rencana makan yang disesuaikan dengan preferensi pribadi dan gaya hidup, serta membantu mencapai tujuan untuk mengendalikan glukosa darah, kadar kolesterol dan trigliserida, tekanan darah, dan manajemen berat badan.

Penelitian menunjukkan, baik jumlah dan jenis karbohidrat dalam makanan mempengaruhi kadar glukosa darah. Studi juga menunjukkan jumlah total karbohidrat dalam makanan, secara umum, adalah prediktor kuat dari respon glukosa darah dari GI.

Berdasarkan penelitian, bagi kebanyakan orang dengan diabetes, alat pertama untuk mengelola glukosa darah adalah penghitungan karbohidrat.

Karena jenis karbohidrat dapat mempengaruhi glukosa darah, penggunaan GI mungkin membantu dalam “fine-tuning” manajemen glukosa darah. Dengan kata lain, menghitung GI dikombinasikan dengan menghitung karbohidrat dapat memberikan manfaat tambahan untuk mencapai tujuan kadar glukosa darah bagi individu yang ingin menempatkan usaha ekstra dalam pemantauan pilihan makanan mereka.

Panduan Menjalani Diet Indeks Glikemik untuk Turun Berat Badan dan Menurunkan Gula Darah

Anda ingin berdiet, tapi bingung mau menerapkan diet yang mana? Pernah mencoba diet indeks glikemik rendah? Diet ini dipercaya dapat membantu menurunkan berat badan dan mengendalikan kadar gula darah. Lalu sebenarnya apa sih diet indeks glikemik itu? Apa saja manfaatnya?

Apa itu diet indeks glikemik rendah?

Prinsip utama dari diet indeks glikemik rendah adalah memilih-milih makanan atau minuman yang kadar indeks glikemiknya sedikit. Indeks glikemik sendiri diartikan sebagai tingkat kecepatan suatu makanan diubah menjadi gula di dalam tubuh. Semakin cepat makanan tersebut berubah menjadi gula, maka kadar indeks glikemiknya tinggi dan begitu pun sebaliknya.

Makanan yang mengandung indeks glikemik yang tinggi sebaiknya dihindari oleh para penderita diabetes, karena akan memengaruhi kadar gula darah mereka. Oleh karena itu, diet indeks glikemik rendah memang sangat cocok bagi orang yang memiliki riwayat diabetes.

Selain dapat mengendalikan gula darah, diet ini mampu membuat berat badan Anda turun. Dalam beberapa penelitian disebutkan bahwa kelompok orang yang mengonsumsi makanan yang rendah glikemiks, mengalami penurunan berat badan yang lebih banyak ketimbang yang tak memedulikan indeks glikemik pada makanannya.

Bagaimana cara menjalani diet indeks glikemik rendah?

Jika Anda ingin melakukan diet ini, maka berikut adalah panduannya:

  • Tidak mengonsumsi makanan yang mengandung indeks glikemik rendah yang memiliki nilai lebih dari 70, seperti roti putih, nasi putih, kentang, biskuit, dan berbagai makanan serta minuman manis.
  • Batasi makanan yang mengandung indeks glikemik sedang dengan skala antara 56-69, contohnya kacang tanah, kacang polong, wortel, kacang merah, susu, jagung, pisang.
  • Perbanyak makanan yang memang mengandung indeks glikemik rendah dengan nilai kurang dari 50, seperti sayur-sayuran, berbagai jenis buah-buahan, gandum, dan nasi merah.

Apakah cukup jika hanya menerapkan diet indeks glikemik rendah?

Bagi Anda yang ingin menurunkan berat badan dengan cepat, maka sebenarnya diet ini tak terlalu bisa menolong Anda. Meski memang berdampak pada penurunan berat badan, namun efek diet ini tak secepat jika Anda menerapkan diet rendah lemak atau diet yang lainnya.

Lalu bagaimana jika Anda ingin berat badan cepat turun dengan menerapkan diet ini? Anda bisa mengakalinya dengan menyatukan beberapa diet tersebut ke dalam perencanaan makan Anda. Misal, Anda menerapkan diet indeks glikemik rendah bersamaan dengan diet rendah lemak atau rendah garam.

Hal tersebut tentunya akan membuat Anda semakin dekat dengan tujuan akhir, yaitu mendapatkan berat badan yang ideal. Selain itu, menggabungkan diet-diet sehat dengan tetap mempertimbangkan kebutuhan tubuh adalah cara yang paling tepat untuk membuat tumpukan lemak Anda pergi dan tubuh menjadi sehat. Lakukan beberapa hal berikut seiring dengan penerapan diet indeks glikemik, bila Anda ingin cepat mendapatkan berat badan yang ideal:

  • Mengatur dengan jadwal dan porsi makan yang sesuai.
  • Kurangi gula, garam, dan lemak.
  • Perbanyak mengonsumsi buah dan sayuran sebagai sumber serat.
  • Hindari makanan dan minuman kemasan.

Apa Saja Makanan Sumber Protein yang Bikin Gula Darah Cepat Naik?

Indeks glikemik, atau GI, mengukur seberapa cepat karbohidrat yang terdapat dalam makanan untuk diubah menjadi gula oleh tubuh. Semakin tinggi nilai GI suatu makanan, semakin tinggi peningkatan kadar gula darah Anda. Sehingga makanan yang punya indeks glikemik tinggi sebaiknya dihindari — terutama bagi orang dengan diabetes. Sebagian besar makanan dengan indeks glikemik tinggi terdapat pada makanan sumber karbohidrat. Lalu, bagaimana dengan indeks glikemik makanan sumber protein?

Indeks glikemik makanan sumber protein

Sebagian besar makanan dengan indeks glikemik tinggi terdapat pada makanan sumber karbohidrat, seperti nasi dan kentang. Beberapa buah-buahan dapat mengandung karbohidrat, tapi memiliki nilai glikemik yang rendah.

Sementara itu, makanan sumber protein hewani seperti daging sapi, daging ayam, telur, dan ikan sama sekali tidak memiliki kandungan karbohidrat. Oleh karena itu indeks glikemik makanan protein hewani bisa dibilang nol besar.

Tetapi, makanan sumber protein nabati masih mengandung karbohidrat sehingga indeks glikemik makanan ini harus tetap diperhitungkan masak-masak. Contohnya, nilai IG dalam 150 gram kacang kedelai adalah 15. Sementara dalam 150 gram kacang merah diketahui terdapat nilai IG sebesar 34.

Namun begitu biasanya kadar IG makanan sumber protein nabati tidak sebesar pada makanan berkarbohidrat tinggi. Selain itu, susu – meskipun termasuk makanan protein hewani – termasuk sumber protein yang punya nilai IG. Nilai IG segelas susu full cream 250 ml adalah sebesar 31. Nilai ini hampir setara dengan 80 gram wortel yang memiliki IG sebesar 35, yang termasuk rendah.

makanan protein

Meski nilai indeks glikemik makanan berprotein tergolong rendah, tetap tak boleh dikonsumsi berlebihan

Nilai indeks glikemik makanan berprotein, baik sumber hewani dan nabati, masih tergolong aman untuk dikonsumsi orang dengan diabetes karena tidak bikin gula darah melonjak tinggi. Tapi jenis makanan ini akan memengaruhi gula darah Anda dengan cara yang lain.

Alih-alih punya nilai IG, makanan berprotein ini justru punya kadar lemak yang juga harus Anda perhatikan. Kadar lemak yang tinggi pada suatu makanan bisa bikin gula darah Anda tinggi. Jadi, ketika Anda terlalu banyak makan makanan berlemak seperti lemak dari daging, kulit ayam, atau jeroan, tumpukan lemak dalam tubuh akan bertambah. Tumpukan lemak yang terlalu banyak ini dapat memengaruhi kerja insulin yang bertugas untuk mengendalikan kadar gula darah.

Saat hormon insulin ini tidak bekerja dengan baik, maka saat itu juga, kadar gula darah Anda meningkat tajam. Oleh karena itu, orang dengan diabetes tak hanya harus menghindari makanan dengan gula yang tinggi saja, tetapi juga makanan yang berlemak tinggi.

Nilai indeks glikemik makanan juga dipengaruhi oleh cara pengolahannya

Indeks glikemik suatu makanan tidak selalu sama nilainya. Beberapa faktor yang mempengaruhi nilai indeks glikemik yaitu:

  • Cara mengolah atau mempersiapkan makanan: Beberapa komponen dalam makanan seperti lemak, serat, dan asam (yang terdapat pada lemon atau cuka) secara umum bersifat menurunkan kadar indeks glikemik. Semakin lama Anda memasak makanan berpati, seperti pasta misalnya, maka indeks glikemiknya akan semakin tinggi.
  • Tingkat kematangan: Pada buah-buahan terutama, tingkat kematangan akan sangat mempengaruhi nilai indeks glikemik. Sebagai contoh, semakin matang buah pisang maka nilai indeks glikemiknya akan semakin tinggi.
  • Makanan lain yang Anda makan: nilai indeks glikemik ditentukan berdasarkan masing-masing jenis makanan. Tetapi pada kenyataannya, kita cenderung lebih sering mengonsumsi beberapa jenis makanan sekaligus. Ini dapat mempengaruhi bagaimana tubuh mencerna karbohidrat. Jika Anda mengonsumsi makanan yang memiliki nilai indeks glikemik tinggi, disarankan untuk mencampurnya dengan makanan dengan nilai indeks glikemik rendah.
  • Kondisi tubuh: usia, aktivitas fisik, dan seberapa cepat tubuh Anda mencerna makanan turut mempengaruhi bagai

Hati-hati, Gula Darah Tinggi Dapat Menyebabkan Kematian!

Hiperglikemia adalah kondisi di mana kadar gula darah dalam tubuh yang tinggi. Kondisi ini terjadi ketika tubuh tidak memiliki cukup insulin maupun akibat resistensi insulin, yaitu hormon yang dilepas oleh pankreas. Orang yang mengalami hiperglikemia, biasanya penderita diabetes tipe 2, dapat mengalami koma hingga kematian.

Apa itu hiperglikemia?

Kadar gula darah Anda dikatakan terlalu tinggi jika melebihi angka 200 mg/dL. Kadar gula darah yang terlalu tinggi inilah disebut hiperglikemia.

Penderita diabetes dapat menjadi hiperglikemia jika mereka tidak menjaga kadar glukosa darah di bawah kontrol (dengan menggunakan insulin, obat-obatan, dan perencanaan makanan yang sesuai). Misalnya, jika seseorang dengan diabetes tipe 1 tidak cukup mengonsumsi insulin sebelum makan, glukosa yang dihasilkan tubuh mereka dari makanan dapat terbentuk dalam darah mereka dan menyebabkan hiperglikemia.

Ahli endokrinologi Anda akan memberi tahu Anda kadar glukosa darah target Anda. Tingkat Anda mungkin berbeda dari apa yang biasanya dianggap normal karena usia, kehamilan, atau faktor lainnya.

Apa komplikasi hiperglikemia yang bisa terjadi dalam jangka panjang?

Hiperglikemia yang tidak diobati dapat menyebabkan komplikasi jangka panjang. Komplikasi tersebut meliputi:

  • Penyakit kardiovaskular
  • Kerusakan saraf (neuropati)
  • Kerusakan ginjal (nefropati diabetik) atau gagal ginjal
  • Kerusakan pada pembuluh darah retina (retinopati diabetik), yang berpotensi menyebabkan kebutaan
  • Lensa mata menjadi keruh/kabur (katarak)
  • Masalah kaki yang disebabkan oleh saraf yang rusak atau aliran darah yang buruk yang dapat menyebabkan infeksi serius dan dalam beberapa kasus yang parah, memerlukan amputasi
  • Masalah kulit, termasuk infeksi bakteri, infeksi jamur dan luka yang susah sembuh
  • Infeksi gigi dan gusi

Komplikasi hiperglikemia lebih parah yang dapat menyebabkan kematian

1. Ketoasidosis diabetik

Jika Anda memiliki diabetes tipe 1, penting untuk mengenali dan mengobati hiperglikemia karena jika tidak diobati dapat menyebabkan ketoasidosis. Kondisi ini terjadi ketika Anda tidak memiliki cukup insulin dalam tubuh Anda.

Ketika ini terjadi, glukosa tidak bisa masuk ke dalam sel Anda untuk menjadi energi. Tingkat gula darah Anda meningkat dan tubuh Anda mulai memecah lemak untuk energi. Proses ini menghasilkan asam yang dikenal dengan keton. Sel tubuh harus menggunakan keton sebagai sumber energi. Keton yang berlebihan akan menumpuk alam darah dan akhirnya menyatu dengan urine.

Menurut American Diabetes Association, ketoasidosis lebih sering terjadi pada orang dengan diabetes tipe 1. Dapat juga terjadi pada diabetes tipe 2 namun jarang terjadi. Hal ini bisa menjadi serius jika tidak diobati, dapat menyebabkan koma diabetik dan bahkan kematian.

Gejala ketoasidosis mirip dengan hiperglikemia, yaitu:

  • Keton tinggi dalam urine
  • Sesak napas
  • Napas berbau buah
  • Mulut kering

Selain itu, sakit perut, mual, muntah, dan kebingungan bisa menyertai ketoasidosis. Jika Anda memiliki beberapa gejala berikut segera hubungi dokter untuk mendapatkan perawatan medis yang sesuai. Sebaiknya jika Anda memiliki diabetes, periksa kadar keton dalam tubuh Anda secara teratur.

2. Sindrom hiperosmolar hiperglikemik nonketotik

Hiperglikemia bisa menjadi parah pada orang dengan diabetes tipe 2 karena dapat memiliki komplikasi lain yaitu sindrom hiperosmolar hiperglikemik nonketotik. Kondisi ini terjadi ketika orang memproduksi insulin, tetapi tidak bekerja dengan benar. Kadar glukosa darah bisa menjadi sangat tinggi yaitu lebih besar dari 600 mg/dL. Karena insulin dapat dihasilkan tapi tidak bekerja dengan benar, tubuh tidak dapat menggunakan glukosa atau lemak untuk menjadi energi.

Tubuh Anda kemudian menyalurkan glukosa ke dalam urine, menyebabkan peningkatan buang air kecil. Jika tidak diobati, diabetes sindrom hiperglikemik hiperosmolar nonketotik dapat menyebabkan dehidrasi yang mengancam jiwa dan koma. Pengobatan medis yang secepat mungkin sangat penting untuk dilakukan.

Untuk menghindari sindrom hiperosmolar hiperglikemik nonketotik, Anda harus terus mencermati kadar glukosa darah Anda. Jika Anda memiliki kesulitan menjaga gula darah Anda dalam rentang yang diinginkan, konsultasikan hal ini dengan dokter Anda. Dokter akan membantu Anda untuk membuat perubahan pola hidup yang lebih baik.

Gejala yang mungkin muncul yaitu:

  • Haus yang berlebihan
  • Buang air kecil berlebihan, terutama di malam hari
  • Pandangan yang kabur
  • Luka sulit sembuh
  • Kelelahan

Waspada, Gula Darah Tinggi Bisa Bikin Kolesterol dan Trigliserida Naik

Kadar gula yang tinggi di dalam tubuh dapat menyebabkan terjadinya obesitas, dan diabetes melitus. Namun, gula darah tinggi juga bisa merambat ke kondisi lain seperti kolesterol dan trigliserida. Kedua komponen ini tidak jauh hubungannya dengan penyakit jantung. Oleh karena itu, Anda harus berhati-hati jika kadar gula darah tinggi, bisa-bisa terjadi komplikasi penyakit lainnya. Sudah tahu apa hubungannya gula darah tinggi dengan kolesterol dan trigliserida? Simak ulasan di bawah ini.

Apa hubungannya kadar gula darah, kolesterol, dan trigliserida?

Dilansir dari laman Healthline, bahwa orang yang memiliki gula darah yang tinggi akan memiliki kolesterol HDL (kolesterol baik) yang lebih rendah, dan kadar kolesterol LDL (kolesterol jahat) dan trigliserida yang lebih tinggi.

Kolesterol LDL adalah kolesterol yang akan diedarkan dari hati ke berbagai organ tubuh yang memerlukan kadar kolesterol. Jika kadar kolesterol LDL ini terlalu banyak dalam aliran darah, kondisi ini bisa meningkatkan risiko aterosklerosis alias penumpukan plak pada pembuluh darah.

Kolesterol HDL adalah kolesterol yang bekerja untuk mengembalikan kelebihan kolesterol LDL di dalam aliran darah kembali ke organ hati, agar tidak terjadi penyumbatan di aliran darah karena LDL menumpuk.

Oleh karena itu, kadar HDL sangat penting untuk menjaga keseimbangan kolesterol di dalam darah. Turunnya HDL dan meningkatnya LDL berarti risiko penyakit jantung dan pembuluh darah pun naik.

Trigliserida adalah jenis lemak di mana kadar ini akan meningkat setelah makan. Tubuh akan menyimpan kelebihan kalori dalam bentuk trigliserida. Trigliserida didapatkan dari makanan apa pun yang menghasilkan kalori bukan hanya lemak.

Di antara waktu makan, ketika Anda sedang butuh energi, maka trigliserida dilepaskan dari sel sel lemak dan beredar di aliran darah. Sel-sel lemak ada di mana-mana, seperti di bawah kulit atau di sela-sela organ tubuh. Trigliserida ini memang dibutuhkan tubuh, tapi trigliserida dalam jumlah yang tinggi akan meningkatkan risiko penyakit jantung dan menjadi tanda adanya sindrom metabolik.

Dengan kondisi-kondisi ini, itu artinya semakin tinggi gula darah Anda maka akan akan semakin meningkatkan risiko mengalami penyakit jantung akibat peningkatan LDL dan trigliserida, bersamaan dengan penurunan kolesterol HDL.

Bagiamana bisa gula darah memengaruhi kadar kolesterol dan trigliserida?

Menurut dr. Elizabeth Klodas, FACC dalam laman WebMD, ketika kadar gula tinggi, tubuh akan merespon dengan melepaskan jumlah insulin yang tinggi. Insulin adalah hormon penting untuk memetabolisme gula dan kolesterol (lemak) dalam darah. Insulin berfungsi untuk membuat gula yang beredar di darah dapat diangkut ke sel-sel tubuh. Namun, efek pelepasan jumlah hormon insulin bukan hanya menyebabkan gula darah disimpan. Jika kadar insulin naik, kolesterol LDL ikut naik sedangkan kolesterol HDL akan turun.

Lalu, jika tubuh sudah menyimpan semua gula sesuai kebutuhan, namun masih banyak beredar gula darah di dalam aliran darah, maka insulin membantu mengubah gula tersebut menjadi trigliserida. Itu mengapa, saat gula darah tinggi, lemak di tubuh dalam bentuk trigliserida juga bisa ikut naik.

Karena gula darah, kolesterol, dan trigliserida saling berhubungan, maka khusus untuk orang dengan diabetes melitus yang cenderung memiliki tingkat gula darah tinggi, harus lebih waspada dengan kondisi ini.

Bagaimana caranya mencegah gula darah tinggi?

Karena kadar gula darah yang tinggi ternyata bisa memberikan efek membahayakan, penting untuk menjaga kadar gula darah dalam tubuh tetap stabil. Ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan:

  • Mempertahankan berat badan ideal
  • Mengonsumsi makanan berserat tinggi
  • Berolahraga minimal 30 menit sehari, setidaknya 4 hari dalam seminggu
  • Berhenti merokok
  • Cek gula darah, tekanan darah, kolesterol, dan trigliserida secara berkala

Apakah Mengalami Hiperglikemia Pasti Berarti Mengidap Diabetes?

Hiperglikemia atau kondisi di mana gula darah di dalam tubuh lebih tinggi dari normal, umumnya terjadi pada orang yang mengalami diabetes melitus. Tapi, apakah kondisi gula darah tinggi ini hanya terjadi akibat diabetes melitus? Mungkinkah orang yang tidak memiliki diabetes melitus juga mengalami hiperglikemia? Simak ulasan di bawah ini.

Apa itu hiperglikemia?

Hiperglikemia berasal dari kata “hiper” yang artinya tinggi, “gli” artinya glukosa, dan “emia” artinya darah. Seperti yang sudah sedikit diulas di atas, hiperglikemia adalah kondisi abnormal di mana gula darah tinggi berada di atas level normalnya.

Tubuh membutuhkan gula tersebut untuk menjaga fungsinya. Sel-sel tubuh nantinya akan mendapatkan energi juga dari gula yang masuk ke dalam tubuh ini. Namun, ada kondisi tertentu yang justru memiliki gula darah dalam tubuh terlalu banyak di darah atau disebut hipergikemia.

Kadar gula darah puasa normalnya berkisar <126 mg/dL, sedangkan kadar gula darah postprandial atau tanpa puasa normalnya <200 mg/dL ke bawah. Kondisi hiperglikemia dapat ditandai dengan terjadinya:

  • Poliuria (sering buang air kecil)
  • Polidipsia (selalu merasa haus)
  • Polifagia (rasa lapar yang berlebih)
  • Kelelahan yang parah
  • Pandangan kabur

Apabila diketahui segera gejala-gejalanya, kadar gula darah yang tinggi dapat dicegah sebelum menjadi semakin parah.

Apakah kalau mengalami hiperglikemia sudah pasti mengidap diabetes melitus?

Hiperglikemia tidak selalu berhubungan diabetes melitus. Ada beberapa kondisi medis lain yang juga dapat menyebabkan kadar gula tinggi, tetapi memang, penyebab paling umum kadar gula tinggi di atas normal yang banyak ditemukan adalah terkait dengan penyakit diabetes melitus.

Kondisi lainnya yang juga bisa menyebabkan hiperglikemia adalah:

  • Pankreatitis, yakni kondisi terjadinya peradangan pada pankreas
  • Kanker pankreas
  • Hipertiroidisme, kondisi di mana kelenjar tiroid terlalu aktif.
  • Cushing’s syndrome, terjadinya peningkatan kortisol darah
  • Tumor yang menghasilkan hormon tertentu. Contohnya: glucagonoma, pheochromocytoma. Glucagonoma adalah sebuah tumor yang terjadi di pankreas. Keberadaan tumor ini akan membuat produksi hormon glukoagon terlalu banyak. Hormon glukagon di dalam tubuh berfungsi mengubah gula otot (glikogen) menjadi gula darah. Pheochromocytoma adalah tumor yang terbentuk di sel kelenjar adrenal. 50{97eedb18bcef765cfd5ae1f5706881693b751538d89d413bc1acefc35aca0452} orang dengan kondisi ini mengalami hiperglikemia. Sebab, terjadi ketidakseimbangan produksi hormon epinefrin dan norepinefrin. Pheochromocytoma kebanyakan memproduksi norepinefrin lebih banyak dalam tubuh.
  • Kondisi stres yang parah, seperti saat terjadinya serangan jantung, stroke, trauma, atau beberapa penyakit parah lainnya yang secara sementara membuat kondisi gula darah tubuh menjadi hiperglikemia
  • Efek dari pengobatan tertentu, seperti menggunakan prednisone, estrogen, beta-blocker, glucagon, kontrasepsi oral, phenothiazines dapat meningkatkan peningkatan gula darah.
  • Mengonsumsi banyak sekali karbohidrat dari jumlah biasanya
  • Dalam keadaan sangat pasif tidak banyak bergerak
  • Mengalami infeksi
  • Tidak mendapatkan jumlah dosis obat penurunan gula darah yang sesuai.

Apa komplikasi yang bisa terjadi saat mengalami hiperglikemia?

Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi kadar gula darah tinggi dalam jangka waktu yang lama akan menimbulkan masalah lainnya pada tubuh. Dilansir dari website Kementerian Kesehatan RI, hiperglikemia dapat memperburuk gangguan kesehatan seperti gastroparesis, disfungsi ereksi dan juga infeksi jamur pada vagina.

Komplikasi lainnya yang dapat terjadi dalam jangka panjang adalah:

  • Kerusakan saraf atau neuropati
  • Kerusakan ginjal atau nefropati
  • Gagal ginjal
  • Penyakit kardiovaskular
  • Penyakit mata atau retinopati
  • Permasalahan di kaki karena kerusakan saraf dan aliran darah ke bagian kaki yang tidak lancar

Bagaimana cara menangani hiperglikemia?

Hiperglikemia ringan biasanya tidak memerlukan penanganan medis khusus. Orang dengan kasus hiperglikemia ringan sering kali dapat menurunkan kadar gula darahnya sendiri melalui pola hidup sehat.

Pastikan Anda aktif bergerak. Melakukan aktivitas fisik adalah cara terbaik dan paling efektif untuk menjaga kadar gula darah. Kadar gula darah yang tinggi dapat diturunkan dengan aktivitas fisik yang dilakukan sehari-hari.

Selain itu, aturlah asupan karbohidrat Anda dan cegah konsumsi makanan yang menyebabkan kenaikan gula darah yang tinggi. Konsultasikan dengan ahli gizi terkait panduan makan khusus untuk kebutuhan Anda. Jangan lupa juga untuk mengontrol kadar gula darah Anda secara berkala untuk memantaunya.

Untuk memastikan bahwa Anda sudah melakukan perubahan pola hidup sehat yang benar, konsultasikan juga dengan dokter yang menangani kasus Anda.

Dalam kasus yang lebih berat, penanganannya tergantung dengan apa penyebab dari hiperglikemia itu sendiri. Jika memang karena diabetes melitus, maka akan ditangani dengan suntik insulin dan pengobatan lainnya untuk diabetes melitus.